Food and Spirituality

You may be thinking. There are 2 people inside you saying:

“Sepertinya enak makan gorengan hari ini, lalu ada suara lain yang mengatakan hmmm, sepertinya menurut teori dokter waktu itu… Gorengan meningkatkan free radicals dalam tubuh yang bisa sangat membahayakan kesehatan.”

“Hmmm tunggu dulu… Sangat, betulkah sangat atau membahayakan kesehatan sedikit saja?”

Eckhart Tolle, new age spirituality, menjelaskan dalam Oprah Show, mengenai bagaimana untuk bisa “hadir” ketika mengkonsumsi makanan sehingga kita dapat memahami pengaruhnya terhadap tubuh kita dan memahami apakah tubuh kita menolak atau menerimanya.

Eckhart Tolle juga menjelaskan bahwa pola makan sehat bisa jadi me-nurture ego, sehingga dapat menghambat pemulihan kita sebagai manusia secara keseluruhan baik secara fisik, mental, maupun spiritual.

Ia juga menjelaskan bahwa pemilihan pola makan dan jenis makanan needs to come from “within” dan dapat menjadi ikhlas apabila seluruh tubuh, pikiran dan spirit kita hadir dan memahaminya yang baik untuk diri kita.

Bahkan apabila kita ingin mengkonsumsi “french fries” kita bisa mengkonsumsinya dengan hadir secara penuh, memahami bagaimana reaksi tubuh kita sehingga apabila tubuh merasa tidak nyaman- next time secara ikhlas kita dapat berkata tidak kepadanya.

Seorang yang sangat pemerhati terhadap kesahatan merasa kaget ketika mengetahui bahwa Hitler adalah seorang vegetarian. Sering diasosiasikan tingkat spiritualitas seseorang dan ego dissipation dari seseorang berkaitan dgn vegetarianism.

Namun, bisa jadi pola makan vegetarianism tersebut digunakan sebagai suatu cara untuk me nurture ego, meningkatkan ego identification sehingga tujuan pemulihan secara utuh tidak tercapai.

Pada akhirnya, yang terbaik untukmu hanya dirimu, badanmu, fisikmu, healthy intelligence, spirit- secara kesatuan- yang memahaminya.

Image: <a href=”http://www.freepik.com/free-vector/abstract-yoga-illustration_810222.htm”>Designed by Freepik</a>

Don't be shellfish... Share on FacebookShare on Google+Share on LinkedInTweet about this on TwitterShare on TumblrPin on Pinterest

Puasa Nasi Putih

Berikut adalah sharing seorang rekan dalam perjalanannya mengurangi konsumsi nasi putih dalam kesehariannya.

Nasi putih dianggap sebagai karbohidrat ber glicemic index yang tinggi dan dapat menjadi masalah dalam menjaga kadar insulin yang seimbang dalam tubuh.  Glicemic Index yang tinggi berarti gula dalam nasi diserap secara cepat oleh tubuh dan menyebabkan crash sehingga seringkali kita mengantuk sesaat/sejam setelah makan. Karbohidrat dengan glicemic index rendah seringkali menjadi pilihan untuk menjaga energi agar diproduksi secara konstan dan stabil dalam waktu yang lebih lama. 

Berikut sharing Nova, rekan saya, dalam perjuangannya. Kami mengasosiasikan jumlah poin tertentu ketika berhasil mencapai suatu perubahan. Semisal 1 poin ketika seharian dapat berpuasa nasi putih. Sukses buat Nova dan kita tunggu cerita kelanjutan Nova dalam sharing selanjutnya 2 minggu mendatang.

Part 1

Aku sedang proses mengurangi makan carbo, dan target utama skr adalah mengurangi makan nasi putih…sebulan 30 poin, jika ada makan nasi minus 1 poin. Target sebulan ini 80%, jadi kira-kira sebulan hanya boleh makan nasi max 6x (catatan: aku makan besar sehari hanya 1x di siang hari)

Proses nya berat, dan udah di mulai lama sebetulnya, kira2 3 atau 4 bulan lalu udah mulai makan hanya siang hari(nasi), pagi minum air putih saja kira2 6 gelas (kira2 ekivalen 1.5 liter), sore/malam biasanya hanya snack/ubi jalar.

Cukup berat, krn natur nya kl blm kena nasi, itu belum makan.

Tapi sebulan kemarin pas puasa (aku ga puasa) lumayan sukses dengan tidak makan nasi. Failed nya ketika harus menghabiskan masakan istri di rumah.

Godaan terberat adalah pas di kantor atau pas meeting (yg biasanya sambil makan).

Untuk asupan gula, udah berbulan bulan minum kopi hitam/teh tanpa gula. Sedangkan gula di makanan padat agak susah di hindari.

Jadi target bulan ini adalah no rice.

 

Don't be shellfish... Share on FacebookShare on Google+Share on LinkedInTweet about this on TwitterShare on TumblrPin on Pinterest

Essential Oil sebagai Anti Depressant


Kerap dalam kehidupan modern, mereka yang mengalami depresi disarankan untuk mengkonsumsi obat-obatan psikiatri oleh para ahli.  Seringkali obat-obatan ini dapat menyelamatkan nyawa mereka dan membantu mereka dalam proses pemulihan. Namun dalam jangka panjang, obat-obatan ini memiliki efek samping yang tidak sedikit. Tanpa bermaksud mengkhususkan obat-obatan psikiatri tertentu, seringkali beberapa jenis obat tersebut memiliki efek samping yang lebih besar ketimbang manfaatnya.

Kini banyak pasien dan keluarga yang berjuang melalui suatu kondisi mental dengan mengkombinasikan terapi alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap obat-obatan tersebut.  Beberapa jenis terapi alternatif bahkan dapat menggantikan obat-obatan terutama pada kondisi mental yang ringan.

Diantaranya adalah terapi nutrien atau orthomolecular medicine yang menggantikan obat-obatan dengan suplemen vitamin dan mineral dengan dosis tertentu yang dapat bekerja memperbaiki sistem kerja otak dan tubuh.

Selain itu, essential oil juga dapat dijadikan sebagai terapi penunjang dimana kombinasi pasti dari beberapa jenis campuran dapat berfungsi layaknya anti depresan. Dr. Gary Young, seorang ilmuwan pendiri Young Living meresepkan kombinasi oil yang Ia sebut sebagai cara pasti untuk menjalani hari dengan baik – or how to feel good and have a great day.

Kombinasi ini adalah: Valor oil, Harmony Oil, Joy Oil, dan White Angelica Oil

1-2 tetes Valor Oil dioleskan pada pergelangan tangan, 1 tetes Harmony Oil pada Solar Plexus atau area di atas pusar, 1 tetes Joy Oil pada cakra hati atau area dada serta 1 tetes White Angelica diusapkan di kedua belah tangan, dihirup (dan dapat pula sisa aroma kemudian diusapkan ke seluruh bagian tubuh terutama area pundak).

Penggunaan Essential Oil merupakan suatu perjalanan tersendiri dan bergantung pada energi kebutuhan kita ketika menentukan oil yang cocok.  Seringkali dibutuhkan eksperimentasi, mencium aromanya dan merasakan efeknya pada tubuh dan pikiran dan kemudian menentukan seberapa sering kita dapat menggunakan oil tersebut, mengkombinasikannya dengan oil yang lain atau bahkan kita pun dapat menentukan kapan kita tidak lagi membutuhkan oil tersebut.

Didalam penggunaan essential oil, kita melatih diri kita untuk mengenal bagaimana tubuh dan pikiran kita dapat dipengaruhi melalui aroma, mempercayai kemampuan kita untuk memilah hal-hal yang baik dan membantu kita serta meninggalkan hal-hal lain yang sudah tidak lagi bermanfaat.

Berikut terdapat beberapa artikel riset yang dapat membantu riset Anda mengenai penggunaan Essential Oil sebagai anti depresan. Selalu konsultasikan dengan ahli sebelum memulai suatu terapi tertentu.

https://www.researchgate.net/profile/Ricardo_REYES-CHILPA/publication/230622035_Antidepressant_activity_of_Litsea_glaucescens_essential_oil_Identification_of_b-pinene_and_linalool_as_active_principles/links/5404a8970cf2bba34c1ce5db/Antidepressant-activity-of-Litsea-glaucescens-essential-oil-Identification-of-b-pinene-and-linalool-as-active-principles.pdfntlBGbOKka6DKv_qDg&nossl=1&oi=scholarr&ved=0ahUKEwisp7Sdv-zUAhUhTo8KHY98DrUQgAMIIigAMAA

http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0308814612014306

http://www.tandfonline.com/doi/full/10.3109/13880209.2012.751616

 

Don't be shellfish... Share on FacebookShare on Google+Share on LinkedInTweet about this on TwitterShare on TumblrPin on Pinterest