Meditation Practice to sustain focus at work. 

Ketika bekerja, pikiran berloncatan dan mengambil alih.

Alih-alih fokus kepada tugas di hadapan, pikiran kita melayang pada rencana dinner, terbelenggu karakter lawan bicara, mengingat argument atau kegelisahan ketika berhadapan dengan sebuah situasi, dan lain sebagainya. 

Ketimbang berfokus kepada tugas dihadapan, kita memilih untuk menjadi resisten atau malah melarikan diri dari situasi di hadapan kita dengan mengawangkan pikiran pada masa lalu, masa depan, serta hal lainnya.

Hal ini disebut flight or fight response. Ketidakmampuan atau ketidaksediaan kita untuk berhadapan dgn situasi membuat kita mencoba mengalihkan/melarikan diri/ melawan. Disebut juga dengan non acceptance. 

Salah satu dari beragam teknik yang dapat dilakukan untuk menetapkan kita pada present moment adalah fokus kepada nafas, dan membiarkan diri kita merasakan semua sensasi dan pikiran yang kita rasakan. Menjadikan nafas sebagai jangkar di lautan emosi dan pikiran. 

Pada akhirnya pikiran atau emosi tersebut dapat kita terima dan hilang atau berpindah dengan sendirinya. 

Dengan kata lain, pikiran atau emosi tersebut memiliki sifat impermanent – tidak permanen. Dan justru sikap penghindaran atau perlawanan bersifat menguatkan atau memperbesar energi emosi dan pikiran tsb dalam diri kita. 

Pada akhirnya kita memahami bahwa emosi dan pikiran tersebut bukanlah suatu hal yang perlu ditakuti. Karena kita mampu melaluinya dengan menyatukan diri dgn nafas. 

Strategi lainnya yang dapat kita lakukan adalah memisahkan diri dari pikiran atau emosi tersebut. Sebagai contoh,   ketika terpikir suatu emosi kekhawatiran akan sesuatu hal, bertanyalah kepada diri sendiri:

“Kepada siapakah emosi atau pikiran ini ditujukan?”

Jawabannya adalah: kepada saya

Lalu siapakah saya?

 

Jawaban dari pertanyaan siapakah saya akan memberi keheningan dalam diri dan bahwa siapakah saya sungguh sangat luas.

Praktek ini dapat membantu kita untuk berperan sebagai observer dalam segala hal yang melewati diri kita. 

Dan kita tidak diambil alih, melarikan diri, atau membangun resistensi namun mampu melaluinya dan mampu memisahkan dari dari emosi, pikiran dan lainnya dan memahami diri kita yang sejatinya dalam kuasa dan pengaruh Tuhan Yang Maha Esa.

Don't be shellfish... Share on FacebookShare on Google+Share on LinkedInTweet about this on TwitterShare on TumblrPin on Pinterest