Category Archives: Articles

Published Content

Meditation Practice to sustain focus at work. 

Ketika bekerja, pikiran berloncatan dan mengambil alih.

Alih-alih fokus kepada tugas di hadapan, pikiran kita melayang pada rencana dinner, terbelenggu karakter lawan bicara, mengingat argument atau kegelisahan ketika berhadapan dengan sebuah situasi, dan lain sebagainya. 

Ketimbang berfokus kepada tugas dihadapan, kita memilih untuk menjadi resisten atau malah melarikan diri dari situasi di hadapan kita dengan mengawangkan pikiran pada masa lalu, masa depan, serta hal lainnya.

Hal ini disebut flight or fight response. Ketidakmampuan atau ketidaksediaan kita untuk berhadapan dgn situasi membuat kita mencoba mengalihkan/melarikan diri/ melawan. Disebut juga dengan non acceptance. 

Salah satu dari beragam teknik yang dapat dilakukan untuk menetapkan kita pada present moment adalah fokus kepada nafas, dan membiarkan diri kita merasakan semua sensasi dan pikiran yang kita rasakan. Menjadikan nafas sebagai jangkar di lautan emosi dan pikiran. 

Pada akhirnya pikiran atau emosi tersebut dapat kita terima dan hilang atau berpindah dengan sendirinya. 

Dengan kata lain, pikiran atau emosi tersebut memiliki sifat impermanent – tidak permanen. Dan justru sikap penghindaran atau perlawanan bersifat menguatkan atau memperbesar energi emosi dan pikiran tsb dalam diri kita. 

Pada akhirnya kita memahami bahwa emosi dan pikiran tersebut bukanlah suatu hal yang perlu ditakuti. Karena kita mampu melaluinya dengan menyatukan diri dgn nafas. 

Strategi lainnya yang dapat kita lakukan adalah memisahkan diri dari pikiran atau emosi tersebut. Sebagai contoh,   ketika terpikir suatu emosi kekhawatiran akan sesuatu hal, bertanyalah kepada diri sendiri:

“Kepada siapakah emosi atau pikiran ini ditujukan?”

Jawabannya adalah: kepada saya

Lalu siapakah saya?

 

Jawaban dari pertanyaan siapakah saya akan memberi keheningan dalam diri dan bahwa siapakah saya sungguh sangat luas.

Praktek ini dapat membantu kita untuk berperan sebagai observer dalam segala hal yang melewati diri kita. 

Dan kita tidak diambil alih, melarikan diri, atau membangun resistensi namun mampu melaluinya dan mampu memisahkan dari dari emosi, pikiran dan lainnya dan memahami diri kita yang sejatinya dalam kuasa dan pengaruh Tuhan Yang Maha Esa.

Don't be shellfish... Share on FacebookShare on Google+Share on LinkedInTweet about this on TwitterShare on TumblrPin on Pinterest

Food and Spirituality

You may be thinking. There are 2 people inside you saying:

“Sepertinya enak makan gorengan hari ini, lalu ada suara lain yang mengatakan hmmm, sepertinya menurut teori dokter waktu itu… Gorengan meningkatkan free radicals dalam tubuh yang bisa sangat membahayakan kesehatan.”

“Hmmm tunggu dulu… Sangat, betulkah sangat atau membahayakan kesehatan sedikit saja?”

Eckhart Tolle, new age spirituality, menjelaskan dalam Oprah Show, mengenai bagaimana untuk bisa “hadir” ketika mengkonsumsi makanan sehingga kita dapat memahami pengaruhnya terhadap tubuh kita dan memahami apakah tubuh kita menolak atau menerimanya.

Eckhart Tolle juga menjelaskan bahwa pola makan sehat bisa jadi me-nurture ego, sehingga dapat menghambat pemulihan kita sebagai manusia secara keseluruhan baik secara fisik, mental, maupun spiritual.

Ia juga menjelaskan bahwa pemilihan pola makan dan jenis makanan needs to come from “within” dan dapat menjadi ikhlas apabila seluruh tubuh, pikiran dan spirit kita hadir dan memahaminya yang baik untuk diri kita.

Bahkan apabila kita ingin mengkonsumsi “french fries” kita bisa mengkonsumsinya dengan hadir secara penuh, memahami bagaimana reaksi tubuh kita sehingga apabila tubuh merasa tidak nyaman- next time secara ikhlas kita dapat berkata tidak kepadanya.

Seorang yang sangat pemerhati terhadap kesahatan merasa kaget ketika mengetahui bahwa Hitler adalah seorang vegetarian. Sering diasosiasikan tingkat spiritualitas seseorang dan ego dissipation dari seseorang berkaitan dgn vegetarianism.

Namun, bisa jadi pola makan vegetarianism tersebut digunakan sebagai suatu cara untuk me nurture ego, meningkatkan ego identification sehingga tujuan pemulihan secara utuh tidak tercapai.

Pada akhirnya, yang terbaik untukmu hanya dirimu, badanmu, fisikmu, healthy intelligence, spirit- secara kesatuan- yang memahaminya.

Image: <a href=”http://www.freepik.com/free-vector/abstract-yoga-illustration_810222.htm”>Designed by Freepik</a>

Don't be shellfish... Share on FacebookShare on Google+Share on LinkedInTweet about this on TwitterShare on TumblrPin on Pinterest

Puasa Nasi Putih

Berikut adalah sharing seorang rekan dalam perjalanannya mengurangi konsumsi nasi putih dalam kesehariannya.

Nasi putih dianggap sebagai karbohidrat ber glicemic index yang tinggi dan dapat menjadi masalah dalam menjaga kadar insulin yang seimbang dalam tubuh.  Glicemic Index yang tinggi berarti gula dalam nasi diserap secara cepat oleh tubuh dan menyebabkan crash sehingga seringkali kita mengantuk sesaat/sejam setelah makan. Karbohidrat dengan glicemic index rendah seringkali menjadi pilihan untuk menjaga energi agar diproduksi secara konstan dan stabil dalam waktu yang lebih lama. 

Berikut sharing Nova, rekan saya, dalam perjuangannya. Kami mengasosiasikan jumlah poin tertentu ketika berhasil mencapai suatu perubahan. Semisal 1 poin ketika seharian dapat berpuasa nasi putih. Sukses buat Nova dan kita tunggu cerita kelanjutan Nova dalam sharing selanjutnya 2 minggu mendatang.

Part 1

Aku sedang proses mengurangi makan carbo, dan target utama skr adalah mengurangi makan nasi putih…sebulan 30 poin, jika ada makan nasi minus 1 poin. Target sebulan ini 80%, jadi kira-kira sebulan hanya boleh makan nasi max 6x (catatan: aku makan besar sehari hanya 1x di siang hari)

Proses nya berat, dan udah di mulai lama sebetulnya, kira2 3 atau 4 bulan lalu udah mulai makan hanya siang hari(nasi), pagi minum air putih saja kira2 6 gelas (kira2 ekivalen 1.5 liter), sore/malam biasanya hanya snack/ubi jalar.

Cukup berat, krn natur nya kl blm kena nasi, itu belum makan.

Tapi sebulan kemarin pas puasa (aku ga puasa) lumayan sukses dengan tidak makan nasi. Failed nya ketika harus menghabiskan masakan istri di rumah.

Godaan terberat adalah pas di kantor atau pas meeting (yg biasanya sambil makan).

Untuk asupan gula, udah berbulan bulan minum kopi hitam/teh tanpa gula. Sedangkan gula di makanan padat agak susah di hindari.

Jadi target bulan ini adalah no rice.

 

Don't be shellfish... Share on FacebookShare on Google+Share on LinkedInTweet about this on TwitterShare on TumblrPin on Pinterest

Essential Oil sebagai Anti Depressant


Kerap dalam kehidupan modern, mereka yang mengalami depresi disarankan untuk mengkonsumsi obat-obatan psikiatri oleh para ahli.  Seringkali obat-obatan ini dapat menyelamatkan nyawa mereka dan membantu mereka dalam proses pemulihan. Namun dalam jangka panjang, obat-obatan ini memiliki efek samping yang tidak sedikit. Tanpa bermaksud mengkhususkan obat-obatan psikiatri tertentu, seringkali beberapa jenis obat tersebut memiliki efek samping yang lebih besar ketimbang manfaatnya.

Kini banyak pasien dan keluarga yang berjuang melalui suatu kondisi mental dengan mengkombinasikan terapi alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap obat-obatan tersebut.  Beberapa jenis terapi alternatif bahkan dapat menggantikan obat-obatan terutama pada kondisi mental yang ringan.

Diantaranya adalah terapi nutrien atau orthomolecular medicine yang menggantikan obat-obatan dengan suplemen vitamin dan mineral dengan dosis tertentu yang dapat bekerja memperbaiki sistem kerja otak dan tubuh.

Selain itu, essential oil juga dapat dijadikan sebagai terapi penunjang dimana kombinasi pasti dari beberapa jenis campuran dapat berfungsi layaknya anti depresan. Dr. Gary Young, seorang ilmuwan pendiri Young Living meresepkan kombinasi oil yang Ia sebut sebagai cara pasti untuk menjalani hari dengan baik – or how to feel good and have a great day.

Kombinasi ini adalah: Valor oil, Harmony Oil, Joy Oil, dan White Angelica Oil

1-2 tetes Valor Oil dioleskan pada pergelangan tangan, 1 tetes Harmony Oil pada Solar Plexus atau area di atas pusar, 1 tetes Joy Oil pada cakra hati atau area dada serta 1 tetes White Angelica diusapkan di kedua belah tangan, dihirup (dan dapat pula sisa aroma kemudian diusapkan ke seluruh bagian tubuh terutama area pundak).

Penggunaan Essential Oil merupakan suatu perjalanan tersendiri dan bergantung pada energi kebutuhan kita ketika menentukan oil yang cocok.  Seringkali dibutuhkan eksperimentasi, mencium aromanya dan merasakan efeknya pada tubuh dan pikiran dan kemudian menentukan seberapa sering kita dapat menggunakan oil tersebut, mengkombinasikannya dengan oil yang lain atau bahkan kita pun dapat menentukan kapan kita tidak lagi membutuhkan oil tersebut.

Didalam penggunaan essential oil, kita melatih diri kita untuk mengenal bagaimana tubuh dan pikiran kita dapat dipengaruhi melalui aroma, mempercayai kemampuan kita untuk memilah hal-hal yang baik dan membantu kita serta meninggalkan hal-hal lain yang sudah tidak lagi bermanfaat.

Berikut terdapat beberapa artikel riset yang dapat membantu riset Anda mengenai penggunaan Essential Oil sebagai anti depresan. Selalu konsultasikan dengan ahli sebelum memulai suatu terapi tertentu.

https://www.researchgate.net/profile/Ricardo_REYES-CHILPA/publication/230622035_Antidepressant_activity_of_Litsea_glaucescens_essential_oil_Identification_of_b-pinene_and_linalool_as_active_principles/links/5404a8970cf2bba34c1ce5db/Antidepressant-activity-of-Litsea-glaucescens-essential-oil-Identification-of-b-pinene-and-linalool-as-active-principles.pdfntlBGbOKka6DKv_qDg&nossl=1&oi=scholarr&ved=0ahUKEwisp7Sdv-zUAhUhTo8KHY98DrUQgAMIIigAMAA

http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0308814612014306

http://www.tandfonline.com/doi/full/10.3109/13880209.2012.751616

 

Don't be shellfish... Share on FacebookShare on Google+Share on LinkedInTweet about this on TwitterShare on TumblrPin on Pinterest

Sumpah Dokter

vitamin crop

 

First Do No Harm, kalimat populer di kalangan ilmu kedokteran  yang berasal dari Sumpah Hippocrates (Oath Hippocrates) berbahasa Yunani. Suatu sumpah terkait penanganan terhadap pasien yang menjadi landasan bagi kode etik profesi medis/dokter. Sumpah Hippocrates telah direvisi maupun ditulis kembali dari jaman ke jaman. Contohnya, salah satu janji dalam Sumpah Hippocrates yang kalimatnya dianggap tidak tepat, “To abstain from doing harm,” diubah menjadi “The physician must have two special objects in view with regard to disease, namely, to do good or to do no harm” (Hippocrates Corpus dalam Epidemi 2).

 Kemudian, The Hippocratic Oath for scientist mirip dan sesuai dengan Oath Hippocrates, yang dipakai sebagai kode etik. Sumpah yang mendorong ketelitian, kejujuran, dan integritas di kalangan ilmuwan, serta memastikan minimasi dan justifikasi efek samping pekerjaan. First do no harm (primum non nocere:bahasa latin) kemudian terkenal sampai sekarang, walau banyak dikembangkan/diperbarui oleh para ahli. Namun, dasar dari semua itu tetap sama.

Medis maupun non medis atau pratiksi yang terlibat dalam ranah pelayanan kesehatan terhadap manusia, hewan, dan lingkungan, Sumpah Hippocrates ini menjadi peganggan dalam menjalankan pekerjaan dan profesi. Suatu sumpah yang mengutamakan keselamatan agar tidak melukai dan memperburuk kondisi pasien, meski ia hanya seekor ayam. Contoh paling sering yang terjadi ialah memberikan diagnosa yang salah pada pasien, salah memberi resep, malpratek, membuka riwayat kesehatan tanpa seijin pasien, memilih-milih pasien secara tingkat sosial, men-judge pasiendan lainnya.

Bila seorang dokter memahami betul kondisi pasien dan ilmu yang dimilikinya, ia akan melakukan penanganan dengan resiko terkecil. Ketelitian, ilmu yang luas, senang mendengarkan pasien, kesabaran, tidak terlibat perasaan terhadap pasien, kepekaan, dan sebagainya, menunjukan ia memiliki kemampuan untuk bijak mengambil keputusan dalam pemulihan pasien. Keputusan yang sebenarnya kembali diserahkan kepada pasien dan keluarganya. Ia akan menginformasikan macam-macam obat dan makanan bergizi, fungsi dan efeknya, begitu pula pada terapi, ia akan mengeluarkan terapi terbaik dengan menyebutkan ragam terapi, waktu, keuntungan, dan efek sampingnya.

Kebijaksanaan dokter dalam menangani pasien adalah kunci. Biasanya dokter menyarankan tindakan kepada pasiennya. Dan biasanya pula pasien menuruti apa yang disarankan dokter, hal ini disebabkan mereka telah percaya integritas sang dokter. Namun, masih ada dokter atau tenaga medis melupakan hal ini dan mengambil tindakan semata-mata untuk mencari keuntungan dan semena-mena. Ada pula dokter atau tenaga klinis yang mengontrol pemulihan pasien secara berlebihan. Salah satu penyebabnya yaitu melibatkan perasaan kepada pasiennya.

Tidak sedikit terjadi, konselor yang terlalu jauh melibatkan perasaannya terhadap pasien, hingga muncul simpati yang membuatnya mengatur/mengontrol keputusan soal kesehatan, bahkan kehidupan pasien. Hal ini dapat memengaruhi  kondisi psikologis dan pemulihan fisik pasien secara negatif. Pasien bisa mengalami penurunan kondisi fisik dan mental. Jelas, contoh kasus ini perlu dihindari dan dianggap melanggar kode etik.

Contoh lainnya, pemberian antibiotik yang sering diberikan pada pasien dengan penyakit yang tidak membutuhkan antibiotik keras. Ekosistem bakteri yang tidak seimbang bisa merusak tubuh pasien dan membuat tubuh jadi resisten terhadap bakteri. Kasus seperti ini sering terjadi di jaman sekarang yang tidak memikirkan efek jangka panjang. Dokter maupun pratiksi sebaiknya memikirkan opsi-opsi lain yang lebih baik untuk pasiennya, bukan opsi yang instan. Bukankah pasien ingin mendapatkan pengobatan terbaik dari dokter yang dipercayainya? Ini semacam kredibilitas dan tanggung jawab moral yang dipertanyakan.

First do no harm. Bukankah slogan ini menyangkut diri pribadi dokter atau pratiksi juga? First, bukankah sebaiknya tindakan tidak menyakiti dimulai dari diri sendiri lebih dahulu, meski kondisi tubuh sehat – agar selanjutnya mampu membantu penyembuhkan pasien. Bila dokter atau pratiksi tidak bisa memahami permasalahan dalam dirinya, entah itu secara fisik maupun psikis, kemungkinan besar, ia tidak dapat membantu pasiennya. Apalagi dalam dunia psikologi, psikiater, adiksi, dan kebutuhan khusus yang berada di wilayah kesehatan mental. Pasien sangat rawan bila berada dalam tekanan, paksaan, ucapan dan bahasa yang kasar, dihakimi, direndahkan, menyinggung perasaan, atau tidak dipedulikan atau bekerjasama dengan orang yang sama-sama memiliki kecacatan karakter. Tentu ini menyakitkan bagi mereka, tidak nyaman, merasa tidak terbantu dan lebih memilih menghindar berhadapan dengan dokter/pratiksi/konselornya. Jika ini yang terjadi, bukankah juga menyakitkan bagi profesi dokter/pratiksi karena kemampuan menangani pasien tidak berhasil dan berdampak hancurnya karir.

Dalam pemberian nutrisi yang salah pun mempunyai dampak besar bagi pasien. Diketahui, sumber penyakit berasal dari makanan. Makanan yang tidak hanya sekedar makanan, melainkan air, vitamin dan zat nutrisi lainnya yang dapat memperbaiki metabolisme tubuh, kesehatan mental dan juga memulihkan pasca operasi. Kata gizi sering terdengarsimple dan masih banyak yang menyepelekan. Pemberian gizi/nutrisi yang tidak benar atau dosis yang salah sudah pasti membawa pengaruh negatif pada tubuh pasien juga kesehatan mentalnya. Waktu puluhan tahun pun belum tentu mempunyai kemampuan bijak dalam memberi nutrisi apa saja yang baik bagi pasien dengan kondisi kesehatan yang berbeda. Persoalan gizi/nutrisi memang membutuhkan konsultasi dengan dokter/pratiksi yang sangat paham mengenai nutrisi dan dosisnya.

Tidak mudah memang menjadi dokter/pratiksi di bidang kesehatan atau kedokteran. Namun, hal ini bisa kembali ke Sumpah Hippocrates, sang bapak ilmu pengobatan/kedokteran. Sumpah yang telah berkembang dan disesuaikan dengan jaman sekarang yang berisikan janji dan kode etik. Sumpah dokter!

 

Sumber Gambar : Dreamstime.com

 

Don't be shellfish... Share on FacebookShare on Google+Share on LinkedInTweet about this on TwitterShare on TumblrPin on Pinterest

Makanan adalah Sumber Pengobatan dan Juga Sumber Penyakit

Salad 1 Stock Photos

“Let food be thy medicine and medicine thy food” – Hippocrates

Di masa lalu, makanan adalah obat penyembuh berbagai penyakit, saat ini, obat-obatanlah yang digunakan untuk kesembuhan bermacam penyakit. Teknologi belum ada di masa lalu. Masa kini, teknologi tumbuh melesat dan berkejar-kejaran dengan imajinasi dan kebutuhan manusia. Hari ini peluncuran teknologi, dua hari kemudian datang teknologi yang lebih canggih dari sebelumnya. Tidak berbeda terhadap makanan, masih terus muncul makanan dalam bentuk baru yang menimbulkan bermacam penyakit. Situasi ini menyadarkan manusia bersama ilmu pengetahuannya untuk kembali ke semula (back to the basic), kembali ke alam.

Continue reading Makanan adalah Sumber Pengobatan dan Juga Sumber Penyakit

Don't be shellfish... Share on FacebookShare on Google+Share on LinkedInTweet about this on TwitterShare on TumblrPin on Pinterest

Body, Mind, and Spirit Connection

Body Mind Spirit Connection

 

“True healing comes by the nourishing of the mind, the body, and the soul.”

Kesehatan menjadi bagian terpenting bagi umat manusia. Tidak ada manusia yang menginginkan diri dan tubuhnya sakit. Segala macam pengobatan, terapi, tindakan klinis (mis: operasi, radiasi, dan lain-lain), biomedis, alternatif, bahkan kekuatan indera keenam yang kerap disebut pengobatan melalui“orang sakti”, dilakukan manusia agar kembali menjadi sehat. Dan itu semuanya membutuhkan uang.

Continue reading Body, Mind, and Spirit Connection

Don't be shellfish... Share on FacebookShare on Google+Share on LinkedInTweet about this on TwitterShare on TumblrPin on Pinterest

Gejala ADHD Terhadap Anak dan Orang Dewasa

ADHD_jpg_cf

Istilah ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorders) cukup lama terdengar di tengah masyarakat. Sejarah kemunculan gangguan kesehatan mental ini telah ada di tahun 1798, Sir Alexander Crichton menyebutkan ADHD sebagai “Kegelisahan Mental”, namun perkembangan ilmu pengetahuan telah mengubah dan memperbarui nama beserta sistem klasifikasi kategori penyakit mental ke dalam DSM IV (Diagnostik dan Statistik Manual keempat) yang dipimpin oleh Frances Allen, seorang psikiater asal Amerika di tahun 1994.

Continue reading Gejala ADHD Terhadap Anak dan Orang Dewasa

Don't be shellfish... Share on FacebookShare on Google+Share on LinkedInTweet about this on TwitterShare on TumblrPin on Pinterest

Mengenal Kesehatan, Penyakit, dan Gangguan Mental

Photo by Milada Vigerova

 

Masyarakat kita masih menganggap gangguan mental atau gangguan jiwa sebagai suatu penyakit yang tidak bisa disembuhkan, menyeramkan, kutukan, memalukan, dan istilah-istilah negatif lainnya. Stigma dan diskriminasi pun masih tinggi terjadi. Sebutan bagi penderita sering diucapkan dengan kosakata “orang gila”.

Continue reading Mengenal Kesehatan, Penyakit, dan Gangguan Mental

Don't be shellfish... Share on FacebookShare on Google+Share on LinkedInTweet about this on TwitterShare on TumblrPin on Pinterest

Narsisme

Sejarah Narsismekaki perempuan

Kata “narsisme” berasal dari sebuah cerita mitos Yunani.  Di sebuah area bernama Thespiae, hidup seorang pemuda yang dikenal  ketampanannya.  Pemuda itu bernama Narcissus,  seorang pemburu, anak dari  bidadari bernama Liriope dan dewa sungai bernama Cephissus.  Narcissus mengundang kemarahan dewa-kewa ketika Ia menolak perasaan cinta dari seorang bidadari bernama Echo.

Continue reading Narsisme

Don't be shellfish... Share on FacebookShare on Google+Share on LinkedInTweet about this on TwitterShare on TumblrPin on Pinterest