Perbedaan antara Kesombongan dan Kepercayaan Diri

Seringkali orang mengutip ayat yang menyatakan bahwa tiada kesombongan atau percaya diri

tempat bagimu di surga apabila kamu memiliki kesombongan sebesar biji Zarrah sekalipun.

Lalu mengapa? Apakah sebenarnya kesombongan itu dan mengapa kita tidak boleh menjadi sombong?

Kesombongan adalah suatu sikap ketika kadar egoisme kita
sebagai manusia telah melampaui batas kewajaran.  Telah mencapai batas kewajaran namun tidak se-ekstrim narsisme.

Kesombongan seringkali dilakukan dengan pendapat bahwa dirinya lebih tinggi dari orang lain, dirinya yang paling tahu, atau dirinya yang paling hebat, dan orang lain di sekitarnya seolah-olah tidak mempunyai kelebihan apa-apa yang cukup berharga di matanya.

Terkadang  mungkin benar bahwa Ia lebih pandai dan lebih bisa dari orang lain, namun orang yang memiliki kepercayaan diri pada umumnya juga percaya pada kelebihan orang-orang lain di sekitarnya, ia tidak perlu menekankan bahwa Ia lah yang paling hebat dan paling pandai.

Pada umumnya, orang-orang yang percaya diri memiliki keterbukaan  menerima kritik, lebih mampu mengenali kelebihan orang-orang di sekitarnya, mampu mengintrospeksi diri sendiri serta mengambil pelajaran dari orang lain.

Orang-orang dengan kesombongan, karena memiliki ego yang terlampau tinggi, seringkali melewatkan kesempatan untuk dapat menginstrospeksi diri.  Sehingga pertumbuhan dirinya secara utuh menjadi terhambat, dan dapat memberikan kendala dalam kemampuannya untuk berkembang di area tertentu seperti usaha, relasi dengan sesama manusia, atau hal-hal lain dalam kesehariannya.  Ia seringkali menutup kesempatannya sendiri untuk bisa belajar dari orang lain, karena Ia sudah merasa menjadi orang yang paling hebat.

Orang yang sombong seringkali mendapatkan pelajaran hidup melalui kekalahan atau kegagalan, karena hal itu menghantam egonya dengan cukup kuat, dan menjadi bukti bahwa ternyata Ia bukanlah yang paling hebat seperti yang Ia anggap selama ini.

Kepercayaan Diri Kesombongan
Mampu mengenali kekurangannya sendiri Kurang mampu/tidak mampu mengenali kekurangan pada dirinya
Percaya bahwa semua orang memiliki kelebihannya masing-masing Percaya bahwa dirinya lebih hebat dari orang lain dan tidak mampu mengenali dan menghargai kelebihan orang di sekitarnya
Merasa kokoh dan kompeten dengan dirinya sendiri serta kemampuan yang dimilikinya Tidak merasa kokoh atau kompeten sehingga Ia harus membuat dirinya terlihat lebih tinggi dari orang lain (dengan membuat orang lain terlihat lebih rendah)
Memiliki persepsi diri yang sesuai  realitas Memiliki persepsi diri yang tidak sesuai  realitas – cenderung melebihi dari kondisi sebenarnya.
Mengukur kompetensi diri sendiri berdasarkan tantangan tugas yang Ia emban Mengukur diri sendiri dengan membanding-bandingkan diri dengan orang lain.
Sikap yang membuat penerimaan dan kerjasama menjadi lebih mudah Sikap yang cenderung terasa seperti perlawanan sehingga menghambat kerjasama
Komunikasi yang lebih mengacu kepada mendorong orang lain untuk berbuat benar tanpa merasa bahwa Ia tidak mungkin berbuat salah, dan lebih kepada mendidik mengajarkan, dan bukan menyalahkan. Komunikasi yang sering menekankan bahwa “Saya benar, dan kamu salah”

 

Kesombongan merupakan Ujian

Tentu dalam hidup , kita semua pernah mengalami tantangan yang dapat membuat diri kita menjadi sombong, seperti ketika kita mengalami kesuksesan-kesuksesan, yang apabila tidak berhati-hati dapat membuat diri kita menjadi sombong.

Sikap sombong seringkali tidak disenangi orang lain, dan berada di dekat orang yang sombong seringkali terasa menyebalkan.

Namun berada di dekat orang-orang yang percaya diri juga merupakan ujian bagi kita, karena seringkali manusia memiliki rasa iri pada keberhasilan atau kepercayaan diri orang lain.

 

Kita tidak dapat mengubah sikap orang lain

Pada intinya, kita tidak bisa mengubah sikap orang lain. Kita hanya bisa mengubah sikap kita sendiri serta cara pandang  terhadap sikap orang lain tersebut.

Sikap orang lain yang terasa negatif bagi kita merupakan ujian yang datang kepada kita dan memberikan pilihan bagaimana  nantinya kita menghadapi ujian tersebut.  Akankah kita  menanam kebencian terhadap orang tersebut, menanam perasaan-perasaan negatif yang justru dapat menyakiti diri sendiri ataukah kita akan memandangnya dengan kacamata berbeda dan memilih tidak terus – menerus mencoba mengubah orang lain dan tersenyum?

Lalu berkata pada diri sendiri, lebih baik saya melakukan hal-hal lain yang lebih bermanfaat bagi kemajuan saya sendiri ketimbang menghabiskan energi  menanam perasaan buruk dan kebencian terhadap orang lain.

 

Sumber:

 

 

Don't be shellfish... Share on FacebookShare on Google+Share on LinkedInTweet about this on TwitterShare on TumblrPin on Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


6 − = two